INVENTARISASI ARSITEKTUR BANGUNAN CAGAR BUDAYA KANTOR POS SEMARANG (Memikirkan Kembali Peluang Fungsi Kantor Pos di Era Digital)
DOI:
https://doi.org/10.31848/arcade.v5i3.836Keywords:
post office, conservation, inventory, adaptive re- use, architectureAbstract
Abstract: During the Dutch colonial period, Daendeles (1808) built a 1000km postal highway from Anyer - Panarukan. Now the road is known as the pantura (north coast route). The main function is to facilitate communication between regions controlled by Daendeles. One of the buildings that influenced the construction of the postal highway was the first post office in Batavia (1746) and the second post office in Semarang (1750). In the city of Semarang, along with the development of the city to the south and the existence of road infrastructure towards the kingdom of Mataram (Surakarta and Jogjakarta), several branch post offices were built in the Bangkong area and the Post Office Jalan Dr. Wahidin. The building is the center of postal services and operations in the city of Semarang and its surroundings. However, along with the development of the postal industry process, it has pushed service rooms to be more efficient, resulting in a reduction in the need for workspaces which results in a lot of space that can be used for other functions. This opportunity to revitalize the old post office building can be integrated with the potential of the Old Town area which has been developed as a mainstay tourism destination for the city of Semarang. Taking into account this potential, the purpose of this paper is to map and inventory the architectural potential of the Semarang post office which is very urgent to do. The method used is to conduct observations and interviews in a structured manner. The focus of the study is on the potential of architecture, including architectural space and character, as well as the potential of the existing environment or area. The result of the building inventory to preserve that not only focuses on the physical building but also how the activities in it are still attached to the function of the building.
Abstrak: Pada masa colonial Belanda, Daendeles (1808) membangun jalan raya pos sepanjang 1000km dari Anyer - Panarukan dan kini dikenal dengan jalur pantura. Fungsi utama adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang di kuasai Daendeles. Salah satu bangunan yang berpengaruh terhadap dibangunnya jalan raya pos adalah Kantor pos pertama di Batavia (1746) dan Kantor pos kedua di Semarang (1750). Di Kota Semarang seiring dengan perkembangan kota ke arah Selatan dan telah adanya infrastruktur jalur jalan kearah kerajaan Mataram (Surakarta dan Jogjakarta) maka dibangunlah kantor pos cabang di kawasan Bangkong dan Kantor pos jalan Dr. Wahidin. Bangunan tersebut menjadi salah satu tulang punggung pelayanan dan operasional pos di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya. Namun seiring dengan perkembangan proses industri pos telah mendorong ruang pelayanan semakin efisien sehingga terjadi pengurangan kebutuhan ruang kerja yang mengakibatkan banyak ruang yang bisa dimanfaatkan untuk fungsi lain. Peluang ini dapat diintegrasikan dengan potensi kawasan Kota Tua telah dikembangkan sebagai ruang publik dan destinasi pariwisata andalan Kota Semarang. Dengan memperhatikan adanya potensi tersebut tujuan paper ini adalah melakukan mapping dan inventarisasi potensi arsitektur kantor pos Semarang yang sangat mendesak untuk dilakukan. Metode yang dilakukan adalah melakukan survey lapangan dan wawancara secara terstruktur. Adapun fokus kajian adalah pada potensi arsitektur mencakup ruang dan karakter arsitektur, serta potensi lingkungan atau kawasan yang ada. Hasil dari inventarisir bangunan adalah upaya untuk melestarikan yang tidak hanya berfokus pada fisik bangunan saja tetapi juga bagaimana aktivitas di dalamnya masih tetap melekat dengan fungsi bangunannya.Â
References
-. (2000). Standards and Guidelines for Architectural and Historical Investigations in Maryland. Maryland Historical Trust Department of Planning 100 Community Place Crownsville, Maryland 21032-2023.
Antariksa. (2008). Sejarah Dan Konservasi Perkotaan Sebagai Dasar Perancangan Kota. Architecture Articles Friday, 18 July 2008, 1–14.
Azmi, N. F., Ahmad, F., & Ali, A. S. (2015). Heritage place inventory: A tool for establishing the significance of places. Journal of Design and Built Environment, 15(1), 15–23. https://doi.org/10.22452/jdbe.vol15no1.3
Bergita, H., Maryudha, I. P., & ... (2015). Inventarisasi Dan Penilaian Bangunan Cagar Budaya Pada Kampung Bandar Dan Kota Lama Kupang Dengan Historical Site …. Jurnal Kajian Teknologi, 11(1), 55–68.
Budiman, A. (1978). Semarang Riwajatmoe Doeloe. Tanjung Sari.
Hendro, E. P. (2015). Pelestarian Kawasan Konservasi di Kota Semarang. Pelestarian Kawasan Konservasi Di Kota Semarang, 17–28.
Khator, A. (2013). The Relevance Of Traditional Post Office Services In The Growth of Modern Corporate Entities. International Journal of Business and Management Review, 1(2), 31–42.
Kuntowijoyo. (1994). Metodologi Sejarah. Tiara Wacana Yogya.
Makkasahe, U.-. (2018). Tradisionalisme Dalam Arsitektur Kolonial Belanda Di Kota Gorontalo. ARTEKS, Jurnal Teknik Arsitektur, 3(1), 13. https://doi.org/10.30822/artk.v3i1.154
Mayangsari, P. I., Soeaidy, M. S., & Prasetyo, W. Y. (n.d.). Inovasi PT. pos indonesia. Jurnal Administrasi Publik (JAP), 1(2), 248–256.
Nilamsari, N. (2014). Memahami Studi Dokumen Dalam Penelitian Kualitatif. Wacana, 13(2), 177–181.
Pratiwo, P. N. (2002). Java and De Groote Postweg , La Grande Route , the Great Mail Road , Jalan Raya Pos. 158, 707–725.
Priyantoko, R. Y. (2010). Alun-alun di Pusat Kota Gementee di Pesisir Utara Jawa Pada Awal Abad XX Masehi. Universitas Indonesia.
Putra, I. B. G. P. (2019). Kajian Adaptive Reuse Bangunan Dalam Konteks Mitigasi Bencana Di Kota Denpasar. Jurnal Arsitektur Zonasi, 2(1), 56–67.
Rukayah, R. S., Juwono, S., Sri, E., Dhanang, S. S., & Puguh, R. (2019). Post Office and Traditional City Square As City Linkage in Java. 0–6.
Rukayah, R. S., Vania, S. A., & Yuwono, S. (2020). Fostering the Management of Post Office Building from Architectural, Heritage and Urban Design View (Case study: The Solo Post Office, Central Java, Indonesia). 195(Hunian 2019), 144–150. https://doi.org/10.2991/aer.k.200729.023
Rukayah, R. S., Yuwono, S., & Sardjono, A. B. (2020). The Development of the Post Office Cultural Heritage in Semarang. 195(Hunian 2019), 28–34. https://doi.org/10.2991/aer.k.200729.005
Sofiana, R., Purwantiasning, A. W., & Anisa. (2014). Strategi Penerapan Konsep Adaptive Re-Use Pada Bangunan Tua Studi Kasus : Gedung PT. PPI ( Eks Kantor Tjipta Niaga) di Kawasan Kota Tua Jakarta. Seminar Nasional Sains Dan Teknologi 2014, November, 1–10.
Susanto, W. P., Medina, R. D., & P, A. M. A. (2020). Penerapan Metoda Adaptive Reuse pada Alih Fungsi Bangunan Gudang Pabrik Badjoe Menjadi Kafetaria. I(2), 124–135.
Syamsuddien, M. A. L. I. (2016). Inovasi Layanan Pt Pos Indonesia Dalam Upaya Menjaga Eksistensi Di Era Persaingan Global (studi pada kantor pos Bandar Lampung). Universitas Lampung Bandar Lampung.
Tio, J. (2004). Kota Semarang dalam Kenangan. Semarang.
Toer, P. A. (2005). Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Lentera Dipantara.
Wahyuningsih, S. (2013). Pengembangan Layanan Jasa Pengiriman Pt . Pos Indonesia Untuk Kebutuhan Masyarakat Di Kota Bandung. Jurnal Penelitian Pos Dan Informatika Vol., 3(1).











