PAPUA TRADITIONAL ARCHITECTURAL IDENTITY
DOI:
https://doi.org/10.31848/arcade.v7i2.1117Abstract
Abstract: Papua as the largest island in Indonesia has a variety of traditional houses that have the characteristics of describing the local identity and uniqueness. This study uses a literature study method and aims to examine how to interpret traditional Papuan architectural works. Theoretically the result of this research finds that the identity of traditional Papuan architecture is seen from the traditional house as an architectural work in terms of firmitas, utilities, and Venustas. The similarity of shapes in various traditional Papuan houses is found on the roof in the form of a sloping roof with various shapes. There are elements of 'tradition' and 'environmental adaptation' in the architecture of traditional Papuan houses, emphasizing special meanings according to local culture.
Keyword: identity, traditional architecture, traditional house, Papua
Abstrak: Papua sebagai pulau terbesar di Indonesia memiliki ragam rumah tradisional yang memiliki ciri khas menggambarkan identitas dan kekhasan lokal setempat. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dan bertujuan untuk mengkaji secara teoritis bagaimana memaknai karya arsitektur tradisional Papua. Hasil dari penelitian ini secara teoritikal bahwa identitas arsitektur tradisional Papua dilihat dari rumah tradisional sebagai karya arsitektur dari sisi firmitas, utilitas, dan venustas. Kesamaan bentuk pada ragam rumah tradisonal Papua terdapat pada bagian atap berupa atap miring dengan bentuk beragam. Adanya unsur ‘tradisi’ dan ‘adaptasi lingkungan’ pada arsitektur rumah tradisional Papua, menitik beratkan pada pemaknaan khusus sesuai budaya setempat.
Kata Kunci: identitas, arsitektur tradisional, rumah tradisional, Papua
References
Antar, Yori, Eds. (2010). Pesan dari Wae Rebo : Kelahiran Kembali Arsitektur Nusantara: Sebuah Pelajaran dari Masa Lalu untuk Masa Depan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Belk, R. R. (1992). Attachment to Possessions. In I. Altman & S. M. Low (Eds.). pp 37-62. Place Attachment.: Plenum Press : New York.
Bijkerk, Jac. (1924). Naar Sentani. Uitgave Zendingsbureau Oegstgeest
Breakwell, G. M. (1992). Processes of Self Evaluation: Efficacy and Estrangement. In G. M. Breakwell (Ed.), Social Psychology of Identity and the Self-concept. Surrey University Press : Surrey.
Breakwell, G. M. (1993). Integrating Paradigms, Methodological Implications. In G. Breakwell & D. Canter (Eds.) EmpiricalApproaches toSocial Representations. Clarendon Press: Oxford.
Capon, D.S. (1999). The Vitruvian Fallacy: Architectural Theory, Volume One, John Willey & Sons: New York.
Kaloeti et all (2021). Rumah Kombay Rumah Koroway : Dari Tajuk Pohon di Dusun Turun ke Kampung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Badan Litbang Kementrian Pekerjaan dan Perumahan Rakyat. Balai Litbang Perumahan Wilayah III Makassar. ISBN 978-602-5489-11-2
Lippsmeier, Georg. (1997). Bangunan Tropis. Jakarta: Erlangga.
Mangunwijaya, Y.B. (1995). Wastu Citra. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta
Munandar, Agus Aris. (2005), Istana Dewa Pulau Dewata: Makna Puri Bali Abad ke 14-19. Komunitas Bambu : Depok
Rapoport, Amos, (1969). House, Form and Culture. Prentice Hall Inc. New York.
Rapoport, Amos. (1977). Human Aspects of Urban Form, Pergamon, Toronto.
Sukardi. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. PT Bumi Aksara: Jakarta.
V.Wiratna Sujarweni. (2014). Metodeologi Penelitian. Pustaka Baru Perss: Yogyakarta.
.Salura, P., & Fauzi, B. (2012). The Ever-Rotating Aspects of Function-Form-Meaning in Architecture. Journal of Basic and Applied Scientific Research, 2(7), 7086-7090.
Lalli, M. (1992). Urban-Related Identity: Theory, Measurement, and Empirical Findings. Journal of Environmental Psychology, 12, 285-303.
Hematang, Yashinta IP., Setyowati, Erni., Hardiman, Gagoek., (2014) Kearifan lokal Ibeiya dan Konservasi Arsitektur Vernakular Papua Barat. Indonesian Journal of Conservation Vol.3 No 1 (Juni 2014) pg.16-25
Warami, Hugo. (2014). Simbolisme Visual Tata Rias Pengantin Suku Biak Numfor: Kajian Semiotika Budaya. Jurnal Tifa Antropologi:Jurnal Ilmiah Etnografi Papua, 2 (2): 333-343
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. (1998). Laporan Akhir Studi Arsitektur Tradisional Irian Jaya (Kabupaten DATI II Fakfak, Manokwari, Sorong, Paniai, Jayapura, Yapen Waropen dan Kotamadya DATI II Jayapura). Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya.
Salipu, M. Amir. (2020). Permukiman Silimo sebagai Simbol Perwujudan Sistem keamanan dan Kenyamanan Suku Hubula di Lembah Baliem Kabuoaten Jayawujaya. Disertasi Program Pascasarjana Universitas Cendrawasih.
Dewi, Pancawati. (2018). Perapian sebagai Elemen Pembantu Identitas Arsitektur Nusantara. Prociding Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 2018, A073-081. (Online). (https://doi.org/10.32315/sem.2.a073, diakses 10 Desember 2021)
Prasetya, L. Edhi. (2007). Adaptation and Sustainable Architecture; Manggaraian Traditional Architecture in age of Globalization. Presented on â€International Conference of Tropical Architecture within Tradition-Globalizationâ€, 17 Agustus 1945 University (UNTAG),Surabaya, April 24th 2007 : Surabaya. (Online). (https://123doku.com/document/874c_adaptation-and-sustainable-architecture.html diakses pada 09 Desember 2021)











