LANGGAM ARSITEKTUR GEREJA GEREFORMEERD SEMARANG SEBAGAI NILAI PENTING DALAM UPAYA KONSERVASI BANGUNAN CAGAR BUDAYA

Authors

  • Franciskus Xaverius Yudhistira Ricky Kurnia Universitas Diponegoro
  • Agung Budi Sardjono Universitas Diponegoro
  • Gagoek Hardiman Universitas Diponegoro

DOI:

https://doi.org/10.31848/arcade.v7i1.1073

Keywords:

architectural style, semarang old building, gereformeerd church

Abstract

Abstract: In the city of Semarang, many old buildings are still original and have many stories behind their architectural design styles, one of which is the Gereformeerd Church. Due to its age, Gereformeerd Church has been designated as a cultural heritage building by the Semarang city government, but the lack of data on the Gereformeerd Church building causes a lack of conservation measures that can be taken for this church. The purpose of this research is to support the data of the church's cultural heritage building on the important points of the Gereformeerd Church style using an architectural approach so that it can be used as a reference for further research on the conservation of the Gereformeerd Church building in Semarang. The Gereformeerd Church has an architectural style that is heavily influenced by gothic and romanesque architecture which is very closely related to European churches in the 16th-18th centuries. In addition, with Art Deco influence on the interior decoration of the church, it becomes more of an attraction if the analogies and meanings behind the interior design and architectural style are explored and to be used as the basis for the conservation of the cultural heritage of the Semarang Gereformeerd church.

Abstrak: Di Kota Semarang, banyak sekali bangunan tua yang masih asli dan menyimpan banyak cerita di balik gaya desain arsitekturnya, salah satunya adalah Gereja Gereformeerd. Karena usianya, Gereja Gereformeerd ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah kota Semarang, namun minimnya data mengenai bangunan Gereja Gereformeerd menyebabkan kurangnya langkah-langkah konservasi yang dapat diambil untuk gereja ini. Mendata bangunan cagar budaya harus meliputi usia dan nilai penting bangunan. Nilai penting bangunan dibagi menjadi dua yaitu keaslian dan langgam bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk men-support data bangunan cagar budaya Gereja pada nilai penting langgam Gereja Gereformeerd menggunakan pendekatan arsitektur, sehingga dapat dijadikan acuan bagi penelitian lanjutan mengenai konservasi bangunan Gereja Gereformeerd Semarang. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk mencapai tujuan atau objektif di dalam penelitian ini, dengan memfokuskan pada data-data yang dapat diolah secara visual dan pikiran. Gereja Gereformeerd memiliki langgam arsitektur yang terpengaruh berat oleh arsitektur gotik dan romantik yang sangat erat dengan gereja Eropa pada abad ke 16-18. Selain itu, dengan pengaruh Art Deco pada dekorasi interior gereja menjadi sebuah daya tarik lebih jika dieksplor mengenai analogi dan arti di balik desain interior dan langgam arsitektur untuk dijadikan sebagai dasar konservasi bangunan cagar budaya Gereja Gereformeerd Semarang.

References

Budiharjo, E. (1997). Arsitektur Pembangunan dan Konservasi. Djambatan.

Calmorin, L. (1997). Statistics in education and the sciences. Rex Bookstore, Inc.

Christine, P. R. (2016). Ciri Khas Gaya Desain Indische pada GerejaGereja di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jurnal Intra, 4(2), 233–238.

Feilden, B. M. (1982). Conservation of Historic Buildings (3rd ed.). Architectural Press.

Krisprantono. (2008). Historic Urban Landscape. Unika Soegijapranata.

Kriswandhono, A., & Pradana, N. E. (2014). Sejarah Dan Prinsip Konservasi Arsitektural Bangunan Cagar Budaya Kolonial. Institut Konservasi ERMIT.

Kusbiantoro, K. (2008). Studi Komparasi Bentuk dan Makna Arsitektur Gereja W.C.P. Schoemaker (Studi Kasus Gereja Katedral St. Petrus & GPIB Bethel Bandung). Jurnal Ambiance, 1(2).

Nurmasari, S. (2008). Hubungan Media Ruang Luar (Menggunakan Pencahayaan buatan) dengan Kualitas Visual Koridor dimalam hari Menurut Persepsi Masyarakat (Studi Kasus Koridor Jalan Pahlawan Semarang). Universitas Diponegoro.

Perda Semarang No. 14. (2011). Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011-2031.

Pinem, M. (2016). Sejarah, Bentuk dan Makna Arsitektur Gereja GPIB Bethel Bandung. Jurnal Lektur Keagamaan, 14(2), 347–368.

Pollio, M. V. (1960). The Ten Books on Architecture. Dover Publications.

Ramli, S., Santosa, H., & Antariksa. (2020). Signifikansi Elemen Arsitektur Bangunan Kolonial Bergaya Art Deco di Kota Malang. Pawon: Jurnal Arsitektur, 4(02), 63–78. https://doi.org/10.36040/pawon.v4i02.2806

Soewarno, N. (2013). Perkembangan Langgam Arsitektur Pada Bangunan Konservasi. Jurnal Rekakarsa, 1(1). https://doi.org/https://doi.org/10.26760/rekakarsa.v1i1.58

Sugiarto, R. (2019). Studi Analogis Bentuk Arsitektural dan Musik Barok. Media Matrasain, 16(1), 1–14.

Travers, R. M. W. (1978). An introduction to educational research - Fourth

Downloads

Published

2023-03-21

How to Cite

Ricky Kurnia, F. X. Y., Sardjono, A. B., & Hardiman, G. (2023). LANGGAM ARSITEKTUR GEREJA GEREFORMEERD SEMARANG SEBAGAI NILAI PENTING DALAM UPAYA KONSERVASI BANGUNAN CAGAR BUDAYA. Jurnal Arsitektur ARCADE, 7(1), 10–16. https://doi.org/10.31848/arcade.v7i1.1073