PENATAAN KAMPUNG TUA TIANGWANGKANG SEBAGAI KAWASAN WISATA BERKELANJUTAN
DOI:
https://doi.org/10.31848/arcade.v6i3.1067Keywords:
Tiangwangkang Village, Coastal Potential, Coastal Culinary Tourism, Sustainability EffortsAbstract
Abstract: Kampung Tiangwangkang is one of the villages that has natural potential, namely on the coast and there is processing of marine products by the community. However, the processing of natural potential as a tourist place that is less than optimal causes the population to be far from the level of welfare. The natural products of the residents who were paid a high price were not enjoyed by the residents, but by foreign investors. Thus, this research was conducted to analyze the potential and recommend a design as a sustainability effort by utilizing this potential to the fullest. This research method is carried out by collecting data and then analyzing it using direct observation techniques which produce recommendations to solve problems. The results showed that the village of Tiangwangkang has advantages in the form of natural scenery as a visual attraction for tourists, as well as a platform that can bring tourists to the village opposite Tiangwangkang, and vice versa. Culinary buildings, which are characterized using materials and structures, are also an attraction for tourists in the area. However, apart from having advantages, it turns out that Kampung Tiangwangkang also has disadvantages, namely in terms of accessibility and reforestation.Abstrak: Kampung Tiangwangkang merupakan salah satu kampung yang memiliki potensi alam, yaitu di bagian pesisir serta terdapat pengolahan hasil laut oleh masyarakat. Namun pengolahan potensi alam sebagai tempat wisata yang kurang maksimal menyebabkan penduduknya jauh dari tingkat kesejahteraan. Hasil alam dari penduduk yang dibayar dengan harga mahal tersebut ternyata bukan dinikmati oleh penduduk, tetapi oleh investor asing. Dengan demikian, penelitian ini dilakukan untuk menganalisa potensi dan merekomendasikan suatu rancangan sebagai upaya keberlanjutan dengan memanfaatkan potensi tersebut secara maksimal. Metode penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data kemudian dianalisa menggunakan teknik observasi langsung yang menghasilkan rekomendasi untuk menyelesaikan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kampung Tiangwangkang memiliki kelebihan berupa pemandangan alam sebagai daya tarik visual bagi wisatawan, serta sebagai pelantar yang dapat membawa wisatawan ke kampung yang berada diseberang Tiangwangkang, begitu juga sebaliknya. Bangunan kuliner yang memiliki ciri khas dalam penggunaan material dan struktur, juga menjadi sebuah daya tarik bagi wisatawan di daerah tersebut. Namun selain memiliki kelebihan, ternyata Kampung Tiangwangkang juga memiliki kekurangan, yaitu dalam hal aksesibilitas serta penghijauan.
References
Hadiwijoyo, S. S. (2018). Perencanaan pengembangan desa wisata berbasis masyarakat. Yogyakarta: Suluh Media.
I Nyoman Widya Paramadhyaksa, Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, “The Complexity of Orientation in Traditional Village Architecture in Bali, Indonesia", Humanities Diliman, A Philippine Journal of Humanities, HD Vol. 18 No. 1, January-June 2021.
Kay, R., & Alder, J. (2017). Coastal planning and management. CRC Press.
Lautetu, L. M., Kumurur, V. A., & Warouw, F. (2019). Karakteristik Permukiman Masyarakat pada Kawasan Pesisir Kecamatan Bunaken. SPASIAL, 6(1), 126–136.
Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, I Made Adhika, I Dewa Gede Agung Diasana Putra I Gusti Putu Bagus Sastrawan Mananda , Ida Bagus Putu Adnyana. (2020). Design Model Innovations For Tourism Villages In Bangli, Bali Indonesia: Debate Between Environmental And Cultural Protection Versus Community Economic Development. International Journal of Advanced Science and Technology, 29(7), 1428 - 1443. Retrieved from http://sersc.org/journals/index.php/IJAST/article/view/15556Shankar, S. (2015). Impact of heritage tourism in India: A case study. International Journal of Innovative Research in Information Security (IJIRIS), 6(2), 59–61.
Soekadijo, R. G. (2000). Anatomi pariwisata: memahami pariwisata sebagai" systemic linkage. Gramedia Pustaka Utama.
Suansri, P. (2003). Community-based tourism handbook. Responsible Ecological Social Tour-REST Bangkok.
Tiurniari Purba, Yanti Natalia, E., & Santika, Y. (n.d.). JURNAL ABDIMAS UBJ. http://ojs.ubharajaya.org/index.php/jabdimas











